Namanya Sikola Harapan. Tapi
kenyataannya bukanlah sekolah seperti kebanyakan. Tak ada gedung, tak ada
bangku dan meja, apalagi lapangan. Hanya sebuah teras mesjid tua yang dijadikan
tempat pembelajaran. Beralaskan terpal biru, semuanya duduk melantai, merasakan
kasarnya lantai semen yang belum dibaluti tehel, apalagi marmer berkilau. Tak
ada jendela, hanya berdindingkan pemandangan alam yang begitu indah, angin
sejuk yang menampar wajah, seolah menyadarkan kalau kebahagiaan itu bukan hanya
milik kita semata. Tapi juga mereka.
Di Sikola Harapan ini, tempat
anak-anak Dusun Kalora menggantungkan harapan. Sebuah dusun dikaki Pegunungan Gawalise
yang jauh dari perkotaan, hingga jarak ke sekolah yang sangat jauh pun menjadi
alasan mereka untuk bermalas-malasan. Anak-anak kecil ini mungkin belum paham
tentang masa depan. Tentang berapa
pentingnya
pendidikan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bermain dan
bersenang-senang.
“Halo adik-adik semua, hari ini kita
kedatangan tamu” sapa Oji yang aku tau sebagai pendiri sekolah ini. Tadinya aku
pikir dia seorang Guru yang ditugaskan dipedalaman atau seorang anak muda
bergelar Sarjana Pendidikan yang lagi magang. Tapi ternyata dia seorang Dokter
Muda yang sedang menyelesaikan Koas-nya.
“Halo semua, kenalkan, saya Putri”
Didepan anak-anak ini aku berusaha
mengenalkan diriku dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. Jujur, aku
bukanlah seseorang yang bercita-cita menjadi Guru. Aku juga tidak cukup sabar
untuk bisa berhadapan dengan anak-anak. Makanya aku sangat takjub pada Oji yang
menjadi pendiri sekolah ini. Aku seolah bisa membayangkan bagaimana pusingnya
berhadapan dengan puluhan anak dengan karakter yang berbeda. Apalagi mereka
lebih sering menggunakan bahasa daerah.
“Jadi kak Putri mau memberikan kejutan apa nih?” ujar Oji seketika membuatku kelabakan “Mau mengajar atau memberikan games mungkin?” lanjut Oji membuat aku semakin panik. Mengajar? Sumpah, aku sama sekali tak berbakat. Games apalagi. Bahkan merebut perhatian mereka pun aku tak yakin bisa. Bagaimana kalau mereka hanya menatapku aneh. Garing. Aku tak mau mengubah sekolah ini menjadi kuburan yang hening.
Setelah berpikir lama, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aku lantas mengeluarkan kertas origami dari dalam tasku. Aku memang selalu membawanya kemana-mana.
“Okey adik-adik semua, kali ini kak
Putri mau mengajarkan kalian membuat burung origami” ujarku lalu mulai
membagikan kertas berwarna-warni. Dan sambil melipat aku pun mulai mendongeng.
Mungkin bakatku hanya sebatas ini.
“Menurut legenda, kalau kita membuat
seribu burung origami dan menyimpannya dalam toples kaca, maka keinginan kita
akan dikabulkan” aku sengaja memilih bahasa yang paling sederhana agar
anak-anak ini bisa memahami
ceritaku.
Ada
dua orang kakak beradik yang sudah tidak memiliki orang tua. Yang mereka
lakukan sehari-hari adalah mengumpulkan barang-barang bekas dan menjualnya
untuk dibelikan makanan. Pada
suatu hari, sang Kakak mengumpulkan kertas koran dari tempat sampah, lalu
mengajari adiknya membuat burung origami. Sang kakak berkata, kalau membuat
seribu burung origami, maka keinginan mereka akan terwujudkan. Lalu sang adik
pun menjadi semangat melipat burung-burung itu.
Hari
demi hari mereka melipat, burung-burung itu pun semakin banyak. Mereka melipat
sambil tertawa-tawa seolah melupakan beban kehidupan yang berat. Hingga suatu
hari datanglah seorang bapak dan sangat tertarik dengan burung-burung itu. Dia
lalu menawari kedua kakak beradik itu untuk menukar burung-burung origami mereka
dengan sepotong roti cokelat.
Awalnya
sang kakak keberatan, dia mengingat semua perjuangan mereka melipat
burung-burung itu. Dia teringat dengan keinginan mereka yang hampir
terwujudkan. Namun melihat sang adik
yang begitu menginginkan roti cokelat, tergiur oleh rasa penasaran, karena
mereka memang belum pernah menyantap roti selezat itu, akhirnya sang kakak
merelakan setoples burung origami yang telah mereka lipat dengan penuh
perjuangan. Dengan tawa canda dan cerita-cerita kehidupan yang sebenarnya tidak
bisa digantikan, bahkan oleh roti cokelat selezat apapun. Tapi demi sang adik,
dia pun merelakan segalanya. Termasuk keinginan mereka yang hampir terwujudkan.
Aku melihat anak-anak itu terdiam
mendengar ceritaku. Oji pun terpaku disisiku. Mendadak suasana hening. Aku
berharap, kelak anak-anak ini tidak akan menukarkan begitu saja cita-cita mereka
dengan sepotong roti cokelat, sekalipun mereka sangat menginginkannya. Karena
kehidupan bukan hanya tentang makanan yang lezat atau kebahagiaan yang bisa
dinikmati sesaat.
“Okey, sekarang kita membuat pesawat”
ujarku berusaha memecah hening. Anak-anak itu seolah tersadar dari lamunan
panjang, lantas bersorak kegirangan. Oji membantuku membagikan kertas
berwarna-warni. Lalu mengajari mereka membuat pesawat.
Setelah selesai, Oji dan anak-anak
itu membawaku ke suatu tempat. Dimana aku bisa menyaksikan pemandangan kota
dari kejauhan. Rumah-rumah yang berderet rapi layaknya miniatur yang dilihat
dari pegunungan. Disinilah kita akan menerbangkan pesawat-pesawat penuh harapan
ini.
“Sebelum menerbangkannya, kalian
harus membisikkan cita-cita kalian, meniupkannya pada ekor pesawat, lalu
menerbangkannya” ujarku penuh semangat. Anak-anak itu pun menyambutnya dengan tak
sabaran.
“Siaapp...” teriakku. Dan mereka pun
mulai membisikkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter seperti Oji.
Ada yang ingin menjadi tentara. Ada yang ingin menjadi guru. Dan entahlah
mungkin ada yang ingin menjadi pendongeng sepertiku.
Lalu dalam hitungan ketiga, pesawat
dari kertas berwarna-warni itu mulai diterbangkan. Meliuk-liuk diterpa angin
menuju lembah, menuju perkotaan dibawah sana. Mengantarkan cita-cita mereka
untuk diwujudkan disuatu masa. Aku melihat Oji sibuk mengabadikannnya dengan
kamera. Ini pasti akan menjadi moment paling berharga. Dimana anak-anak itu
terlihat sangat bahagia, tertawa-tawa, menyaksikan pesawat mereka terbang
dengan sempurna. Diam-diam aku berdoa, semoga semua harapan mereka didengar
oleh Sang Pencipta.
Saat membuka mata, anak-anak itu
sudah berlarian untuk kembali membaca. Hanya ada Oji yang masih sibuk dengan
kameranya. Aku yakin dia sempat mengambil gambar saat aku sedang khusyuk
berdoa. Lalu aku teringat dengan satu pesawat yang sengaja aku buat untuknya.
“Kamu belum membisikkan harapan kamu” ujarku, lalu memberikan pesawat itu padanya. Dia tertawa kecil “Konyol” ujarnya, tapi tetap meraih pesawat kertas itu dari tanganku. Aku melihat Oji membisikkan sesuatu, meniupkannya pada ekor pesawat lalu mulai menerbangkannya. Giliran aku yang mengambil gambarnya. Senyum Oji mengembang seiring dengan terbangnya pesawat itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Tulus, seperti cintanya pada anak-anak itu.
“Jadi, kamu membisikkan harapan apa
tadi?” tanyaku penasaran.
“Aku inginnya anak-anak itu tidak
berpikiran kalau dengan tinggal di pegunungan mereka lantas tidak berhak akan
pendidikan. Aku ingin mereka seperti anak-anak lainnya yang memiliki masa
depan” ujarnya membuatku terpana.
“Harapan yang sangat mulia” seketika
Oji tertawa.
“Semoga ini
bukan karena pencitraan semata” candanya membuatku ikut tertawa.
“Ji, soal orang-orang yang membenci,
bahkan menghujat kamu, biarkan saja yah. Seperti yang pernah kamu bilang, kalau
cinta itu tak berbatas.
Kalau cinta akan tetap mengalir luas. Jangan menyerah yah,
kamu harus terus berjuang untuk anak-anak ini”
“Makasih yah Put” Oji tersenyum
menatapku “Aku sendiri tidak tau akan sampai dimana dan sampai kapan aku
bertahan. Yang aku tau, setulus apapun kita berbagi kebaikan, tetap akan ada
yang membenci. Bahkan orang yang kita anggap sahabat sendiri, bahkan orang yang
pernah sangat kita cintai. Orang yang selalu berdiri didepan dan membela kita,
tiba-tiba saja sudah berada dibelakang dan menusuk kita. Sakit..” aku tau
bagaimana sulitnya Oji melewati semua ini. Disaat teman-temannya berkata kalau
semua yang dilakukannya hanyalah pencitraan semata. Bahkan orang yang pernah
mencintainya pun tega melukai perasaannya. Tapi seperti itulah kehidupan.
Bagaimana kita seharusnya bertahan.
Aku dan Oji bangkit, bergegas menuju
anak-anak itu untuk pamit. Langit sore hampir berubah gelap. Semoga saja
kebahagiaan ini tidak ikut lenyap. Seperti matahari yang tenggelam dibarat.
Esoknya dia akan terbit lagi dari tempat yang berbeda. Begitu juga kebahagiaan.
Satu kebahagiaan bisa saja hilang. Tapi besoknya dia akan tergantikan dengan
kebahagiaan lain dari tempat yang berbeda. Seperti itulah kehidupan.
Motor Oji melaju meninggalkan kaki pegunungan. Membawa setumpuk harapan yang harus terus dia perjuangkan. Bukan untuknya. Bukan untuk komunitasnya. Tapi demi anak-anak itu. Karena berbuat kebaikan sudah menjadi tanggung jawab kita semua***