16 Agustus 2025

CINTA TANPA BATAS

 

Namanya Sikola Harapan. Tapi kenyataannya bukanlah sekolah seperti kebanyakan. Tak ada gedung, tak ada bangku dan meja, apalagi lapangan. Hanya sebuah teras mesjid tua yang dijadikan tempat pembelajaran. Beralaskan terpal biru, semuanya duduk melantai, merasakan kasarnya lantai semen yang belum dibaluti tehel, apalagi marmer berkilau. Tak ada jendela, hanya berdindingkan pemandangan alam yang begitu indah, angin sejuk yang menampar wajah, seolah menyadarkan kalau kebahagiaan itu bukan hanya milik kita semata. Tapi juga mereka.

Di Sikola Harapan ini, tempat anak-anak Dusun Kalora menggantungkan harapan. Sebuah dusun dikaki Pegunungan Gawalise yang jauh dari perkotaan, hingga jarak ke sekolah yang sangat jauh pun menjadi alasan mereka untuk bermalas-malasan. Anak-anak kecil ini mungkin belum paham tentang masa depan. Tentang berapa pentingnya pendidikan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bermain dan bersenang-senang.

“Halo adik-adik semua, hari ini kita kedatangan tamu” sapa Oji yang aku tau sebagai pendiri sekolah ini. Tadinya aku pikir dia seorang Guru yang ditugaskan dipedalaman atau seorang anak muda bergelar Sarjana Pendidikan yang lagi magang. Tapi ternyata dia seorang Dokter Muda yang sedang menyelesaikan Koas-nya.

Halo semua, kenalkan, saya Putri”

Didepan anak-anak ini aku berusaha mengenalkan diriku dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. Jujur, aku bukanlah seseorang yang bercita-cita menjadi Guru. Aku juga tidak cukup sabar untuk bisa berhadapan dengan anak-anak. Makanya aku sangat takjub pada Oji yang menjadi pendiri sekolah ini. Aku seolah bisa membayangkan bagaimana pusingnya berhadapan dengan puluhan anak dengan karakter yang berbeda. Apalagi mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah.

“Jadi kak Putri mau memberikan kejutan apa nih?” ujar Oji seketika membuatku kelabakan “Mau mengajar atau memberikan games mungkin?” lanjut Oji membuat aku semakin panik. Mengajar? Sumpah, aku sama sekali tak berbakat. Games apalagi. Bahkan merebut perhatian mereka pun aku tak yakin bisa. Bagaimana kalau mereka hanya menatapku aneh. Garing. Aku tak mau mengubah sekolah ini menjadi kuburan yang hening.

Setelah berpikir lama, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aku lantas mengeluarkan kertas origami dari dalam tasku. Aku memang selalu membawanya kemana-mana.

“Okey adik-adik semua, kali ini kak Putri mau mengajarkan kalian membuat burung origami” ujarku lalu mulai membagikan kertas berwarna-warni. Dan sambil melipat aku pun mulai mendongeng. Mungkin bakatku hanya sebatas ini.

“Menurut legenda, kalau kita membuat seribu burung origami dan menyimpannya dalam toples kaca, maka keinginan kita akan dikabulkan” aku sengaja memilih bahasa yang paling sederhana agar anak-anak ini bisa memahami ceritaku.

Ada dua orang kakak beradik yang sudah tidak memiliki orang tua. Yang mereka lakukan sehari-hari adalah mengumpulkan barang-barang bekas dan menjualnya untuk dibelikan makanan. Pada suatu hari, sang Kakak mengumpulkan kertas koran dari tempat sampah, lalu mengajari adiknya membuat burung origami. Sang kakak berkata, kalau membuat seribu burung origami, maka keinginan mereka akan terwujudkan. Lalu sang adik pun menjadi semangat melipat burung-burung itu.

Hari demi hari mereka melipat, burung-burung itu pun semakin banyak. Mereka melipat sambil tertawa-tawa seolah melupakan beban kehidupan yang berat. Hingga suatu hari datanglah seorang bapak dan sangat tertarik dengan burung-burung itu. Dia lalu menawari kedua kakak beradik itu untuk menukar burung-burung origami mereka dengan sepotong roti cokelat.

Awalnya sang kakak keberatan, dia mengingat semua perjuangan mereka melipat burung-burung itu. Dia teringat dengan keinginan mereka yang hampir terwujudkan.  Namun melihat sang adik yang begitu menginginkan roti cokelat, tergiur oleh rasa penasaran, karena mereka memang belum pernah menyantap roti selezat itu, akhirnya sang kakak merelakan setoples burung origami yang telah mereka lipat dengan penuh perjuangan. Dengan tawa canda dan cerita-cerita kehidupan yang sebenarnya tidak bisa digantikan, bahkan oleh roti cokelat selezat apapun. Tapi demi sang adik, dia pun merelakan segalanya. Termasuk keinginan mereka yang hampir terwujudkan.

Aku melihat anak-anak itu terdiam mendengar ceritaku. Oji pun terpaku disisiku. Mendadak suasana hening. Aku berharap, kelak anak-anak ini tidak akan menukarkan begitu saja cita-cita mereka dengan sepotong roti cokelat, sekalipun mereka sangat menginginkannya. Karena kehidupan bukan hanya tentang makanan yang lezat atau kebahagiaan yang bisa dinikmati sesaat.

“Okey, sekarang kita membuat pesawat” ujarku berusaha memecah hening. Anak-anak itu seolah tersadar dari lamunan panjang, lantas bersorak kegirangan. Oji membantuku membagikan kertas berwarna-warni. Lalu mengajari mereka membuat pesawat.

Setelah selesai, Oji dan anak-anak itu membawaku ke suatu tempat. Dimana aku bisa menyaksikan pemandangan kota dari kejauhan. Rumah-rumah yang berderet rapi layaknya miniatur yang dilihat dari pegunungan. Disinilah kita akan menerbangkan pesawat-pesawat penuh harapan ini.

“Sebelum menerbangkannya, kalian harus membisikkan cita-cita kalian, meniupkannya pada ekor pesawat, lalu menerbangkannya” ujarku penuh semangat. Anak-anak itu pun menyambutnya dengan tak sabaran.

“Siaapp...” teriakku. Dan mereka pun mulai membisikkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter seperti Oji. Ada yang ingin menjadi tentara. Ada yang ingin menjadi guru. Dan entahlah mungkin ada yang ingin menjadi pendongeng sepertiku.

Lalu dalam hitungan ketiga, pesawat dari kertas berwarna-warni itu mulai diterbangkan. Meliuk-liuk diterpa angin menuju lembah, menuju perkotaan dibawah sana. Mengantarkan cita-cita mereka untuk diwujudkan disuatu masa. Aku melihat Oji sibuk mengabadikannnya dengan kamera. Ini pasti akan menjadi moment paling berharga. Dimana anak-anak itu terlihat sangat bahagia, tertawa-tawa, menyaksikan pesawat mereka terbang dengan sempurna. Diam-diam aku berdoa, semoga semua harapan mereka didengar oleh Sang Pencipta.

Saat membuka mata, anak-anak itu sudah berlarian untuk kembali membaca. Hanya ada Oji yang masih sibuk dengan kameranya. Aku yakin dia sempat mengambil gambar saat aku sedang khusyuk berdoa. Lalu aku teringat dengan satu pesawat yang sengaja aku buat untuknya.

“Kamu belum membisikkan harapan kamu” ujarku, lalu memberikan pesawat itu padanya. Dia tertawa kecil “Konyol” ujarnya, tapi tetap meraih pesawat kertas itu dari tanganku. Aku melihat Oji membisikkan sesuatu, meniupkannya pada ekor pesawat lalu mulai menerbangkannya. Giliran aku yang mengambil gambarnya. Senyum Oji mengembang seiring dengan terbangnya pesawat itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Tulus, seperti cintanya pada anak-anak itu. 

“Jadi, kamu membisikkan harapan apa tadi?” tanyaku penasaran.

“Aku inginnya anak-anak itu tidak berpikiran kalau dengan tinggal di pegunungan mereka lantas tidak berhak akan pendidikan. Aku ingin mereka seperti anak-anak lainnya yang memiliki masa depan” ujarnya membuatku terpana.

“Harapan yang sangat mulia” seketika Oji tertawa.

“Semoga ini bukan karena pencitraan semata” candanya membuatku ikut tertawa.

            “Ji, soal orang-orang yang membenci, bahkan menghujat kamu, biarkan saja yah. Seperti yang pernah kamu bilang, kalau cinta itu tak berbatas. Kalau cinta akan tetap mengalir luas. Jangan menyerah yah, kamu harus terus berjuang untuk anak-anak ini”

            “Makasih yah Put” Oji tersenyum menatapku “Aku sendiri tidak tau akan sampai dimana dan sampai kapan aku bertahan. Yang aku tau, setulus apapun kita berbagi kebaikan, tetap akan ada yang membenci. Bahkan orang yang kita anggap sahabat sendiri, bahkan orang yang pernah sangat kita cintai. Orang yang selalu berdiri didepan dan membela kita, tiba-tiba saja sudah berada dibelakang dan menusuk kita. Sakit..” aku tau bagaimana sulitnya Oji melewati semua ini. Disaat teman-temannya berkata kalau semua yang dilakukannya hanyalah pencitraan semata. Bahkan orang yang pernah mencintainya pun tega melukai perasaannya. Tapi seperti itulah kehidupan. Bagaimana kita seharusnya bertahan.

            Aku dan Oji bangkit, bergegas menuju anak-anak itu untuk pamit. Langit sore hampir berubah gelap. Semoga saja kebahagiaan ini tidak ikut lenyap. Seperti matahari yang tenggelam dibarat. Esoknya dia akan terbit lagi dari tempat yang berbeda. Begitu juga kebahagiaan. Satu kebahagiaan bisa saja hilang. Tapi besoknya dia akan tergantikan dengan kebahagiaan lain dari tempat yang berbeda. Seperti itulah kehidupan.

            Motor Oji melaju meninggalkan kaki pegunungan. Membawa setumpuk harapan yang harus terus dia perjuangkan. Bukan untuknya. Bukan untuk komunitasnya. Tapi demi anak-anak itu. Karena berbuat kebaikan sudah menjadi tanggung jawab kita semua***   

01 Juni 2024